Date published 

 

Jun 26, RPJMDes) of of Olung Hanangan village and using interview The results of the study showed that the model of the RPJMDes of. Buku I. Agenda Pembangunan Nasional. Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan Berkepribadian . Agenda Pasca dan Perubahan Iklim. Formulasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJMDes) Buluh Cina Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar Tahun The PDF file you selected should load here if your Web browser has a PDF reader plug-in .

Author:ELVERA POSTIGLIONE
Language:English, Spanish, French
Country:Bhutan
Genre:Business & Career
Pages:636
Published (Last):06.09.2016
ISBN:415-8-80164-648-2
Distribution:Free* [*Registration needed]
Uploaded by: FRANCE

76889 downloads 159092 Views 17.79MB PDF Size Report


Rpjmdes 2015 Pdf

RPJMN merupakan rencana pembangunan jangka berisi agenda prioritas pembangunan nasional periode yang. Download Sk tim rpjm des download document. RPJM Desa Cikawungading( RPJM Des) RPJM Des Glinggang village within the Tompobulu Cluster (Source: RPJMDES Kelurahan Cikoro, Desa Rappolemba dan. Rappoala, ). Within the cluster, at least ten rivers.

This is achieved through improved land use governance, enhanced protected areas management and protection of key species, sustainable private sector and industry practices, and expanded constituencies for conservation among various stakeholders. Sarmi and Cyclops Landscapes are located along the northern coast and comprise Sarmi district as well as Jayapura district and municipality. At least 8. Management of at least six conservation areas improved, resulting in the conservation of valuable orangutan and other key species habitat, and the reduction in poaching of threatened and endemic species; 4. At least ten public-private partnerships PPPs promoting low-emissions conservation oriented development established; 5. Increased commitment of key private sector, government, and community stakeholders regarding the positive benefits of conservation and sustainable use of forests and the species they encompass; 7. Policies, laws, regulations, and procedures in support of low emission development and forest conservation and management increased, promulgated, and enforced at all levels; and 8. These two key indicators, although not measured within Year 1, were supported through lower level targets aimed at improving land use governance and forest management. The full Year 1 progress matrix is presented in Appendix 1. Indicators 6, 7, 8, and 15 fell short due to various institutional and operational challenges, including difficulties accessing project sites in Papua and working through political constraints and schedules dictated by local government. However these indicators are expected to be caught up within Year 2. The first two quarters were foundational and involved project launches in all landscapes, socialization activities, technical assessments, and field activity start-up.

Nevertheless, LESTARI opens possibilities to pursue forms of co-management agreements such as partnership agreements with conservation area managers or private sector entities. In addition, the provision of briefs and papers has been effective in supporting understanding of technical content. Kedua indikator utama ini, meskipun tidak diukur pada Tahun 1, didukung oleh target yang ditetapkan pada level di bawahnya yang bertujuan untuk memperbaiki tata kelola pemanfaatan lahan dan hutan.

Sejalan dengan ToC yang digunakan oleh LESTARI, hasil yang diharapkan akan menciptakan kondisi yang kondusif yang diperlukan untuk mencapai dua sasaran induk tersebut di atas. Namun indikatorindikator yang tertinggal ini diharapkan dapat dikejar pada Tahun 2. Pada dua triwulan pertama dibangun landasan dasar proyek dengan meluncurkan proyek-proyek di seluruh lansekap, dengan sosialisasi kegiatan, penilaian teknis dan kegiatan awal di lapangan.

Kemudian pada dua triwulan berikutnya, difokuskan pada pendalaman kegiatan yang sudah berjalan dan memperkuat sinergi melalui pendekatan sub-lansekap.

Pendekatan sublansekap ini menjadi peluang untuk melakukan replikasi pada semua lansekap proyek, memastikan keberlanjutan dari pelaksanaan program proyek, dan oleh karena itu diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan yang transformatif Pada awal Tahun 1, dokumen-dokumen utama dari proyek telah dibuat dan disebarkan termasuk dokumen Landscape Baseline Analysis Analisis Data Dasar Lansekap , Rencana Kerja Tahunan Pertama First Annual Work Plan , Rencana Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Activity Monitoring and Evaluation Plan , dan Rencana Pengelolaan Hibah Grants Management Plan.

Kebijakan penting yang berhasil disusun pada Tahun 1 mencakup: 1 Peraturan Gubernur yang membatasi penggunaan teknis pembakaran untuk membuka lahan di Kalimantan Tengah, 2 Peraturan Bupati di Aceh Tengara yang memungkinkan pemanfaatan Dana Desa untuk konservasi hutan berbasis masyarakat, 3 suatu Qanun tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan di Aceh Selatan, dan 4 SK Dirjen mengenai penggunaan METT untuk menilai dan memperbaiki pengelolaan Kawasan Lindung PA.

rpjmdes 2015 pdf military

Selama Tahun 1, staff senior LESTARI telah memberikan dukungan dan bimbingan kepada para staff dan mitra kerja di lansekap proyek, meningkatkan kemampuan mereka agar dapat memberikan hasil kerja konservasi lansekap dan keragaman hayati yang menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Manajemen senior dari proyek LESTARI juga telah menjalin kerja secara berkala dengan para sub-kontraktor untuk memastikan dukungan teknis yang efisien dan efektif untuk proyek. Program LESTARI MIS, dirancang dan dikelola dan diluncurkan untuk menjalankan operasi proyek, untuk berbagi informasi secara internal, dan melacak kegiatan lapangan di lansekap dengan cara yang efisien.

Pada Tahun 1, kegiatan Hibah terutama sangat banyak, termasuk pemberian penghargaan kepada organisasi lokal yang melakukan konservasi orangutan di Lansekap Leuser dan Katingan-Kahayan.

Menjelang akhir tahun, dilakukan kegiatan penyusunan Rencana Kerja Tahun 2 untuk semua lansekap yang mencerminkan hasil kemajuan dari Tahun 1 dan mengembangkan strategi dan kegiatan untuk Tahun 2 secara rinci. Dengan menyusun Rencana Kerja Tahun 2 yang rinci, maka akan mengurangi kebutuhan akan SOW berbasis proyek dan akan meningkatkan efisiensi.

Perlu dicatat, kemajuan dari setiap alur ToC berbeda pada berbagai lansekap contoh SA1: Kesadaran dan Pembinaan yang paling maju terjadi di Kalimantan Tengah karena pendampingan dari media dan kegiatan yang melibatkan masyarakat dipimpin oleh Mongabay.

Rincian dari kemajuan tiap lansekap disajikan pada bagian lansekap pada laporan ini. Aceh Di Aceh, upaya LESTARI difokuskan pada pelestarian hutan yang kaya nilai konservasi dan nilai keragaman hayati di dalam wilayah Taman Nasional Leuser melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah daerah, bersama pihak otoritas taman nasional, dan masyarakat lokal. Satu MoU telah ditandatangani oleh Dinas Kehutanan Provinsi, yang mewajibkan mereka untuk menjalankan kerjasama dalam rangka meningkatkan pengelolaan hutan yang lebih baik KPHL pada tingkat lansekap.

Hasil kerja Tahun 1 pada lansekap ini yang didukung KPH, dan perjanjian pengelolaan bersama, serta pengelolaan yang lebih efektif dari Taman Nasional Leuser akan menjadi landasan dasar untuk mencapai target di wilayah yang berada dalam target konservasi pada Tahun 2 dan seterusnya. Bersamaan dengan hal itu, LESTARI mendukung kegiatan nyata di lapangan guna membantu memonitor, mendeteksi, dan mencegah pembalakan liar dan pelanggaran hukum terkait satwa liar yang dilindungi. Suatu Unit Tanggap Cepat untuk Satwa Liar mulai beroperasi agar dapat langsung berhubungan dengan masyarakat dalam mengatasi konflik antara manusia dan satwa liar, sementara terdapat juga satu Unit Pemantauan Pelanggaran Hukum terkait perdagangan satwa liar yang dilindungi.

Kamera pelacak dpasang untuk memonitor penyebaran dan jumlah populasi dari spesies satwa yang berada di Taman Nasional agar dapat menentukan wilayah mana yang paling tepat untuk melakukan upaya konservasi alam.

RDTR merupakan rencana tata ruang pada tingkat daerah, memfasilitasi masyarakat daerah dan pihak sektor swasta untuk membangun rasa memiliki. Setelah diadakan pertemuan teknis, Bupati membentuk tim teknis untuk merumuskan SK Bupati di Aceh Tenggara untuk dapat mengelola dan memanfaatkan Dana Desa bagia kegiatan konservasi hutan yang berbasis masyarakat. Mengingat besarnya jumlah masyarakat yang tinggal di zona penyangga di Taman Nasional Leuser, maka dukungan untuk program pengelolaan bersama hutan digiatkan dan diutamakan selama Tahun 1.

Karena mendapat dukungan sepenuhnya dari para pemangku adat, LESTARI akan mendukung 13 desa di lansekap ini agar memperoleh izin untuk mengelola kawasan ini melalui program hutan sosial. Dalam membangun sinergi melalui program pengelolaan bersama co-management initiatives , LESTARI juga mendukung program untuk memfasilitasi masyarakat setempat agar dapat menjalankan mata pencaharian yang berkelanjutan di kawasan strategis, zona penyangga agar dapat mengurangi perambahan hutan dan kerusakan hutan di Lansekap Leuser.

KPS ini bertujuan meningkatkan kehidupan petani dengan memastikan harga jual yang lebih baik, akses pasar yang lebih mudah, praktik pertanian yang juga lebih baik.

Kegiatan ini mencakup kegiatan yang mengidentifikasi kepentingan pemerintah daerah dan mengidentifikasi lokasi yang berdekatan yang dapat dimasukkan sebagai tujuan ekowisata. Kegiatan ini akan berlanjut seiring dengan perkembangan model bisnis ekowisata yang menjadi prioritas tertinggi pada daftar proyek yang terpilih. Fokus kegiatan dipusatkan pada wilayah selatan lansekap di Kabupaten Pulang Pisau, dengan menggunakan analisis GIS dan gambar dari hasil pemotretan drone yang menunjukkan jumlah titik api yang sangat banyak di hutan dan di lahan gambut yang menghancurkan kawasan masyarakat setempat.

Oleh karena itu, ketiga tema teknis diarahkan untuk mengedepankan pengelolaan kebakaran yang terintegrasi dan restorasi lahan gambut, berkoordinasi dengan BRG serta mendukung kegiatan prioritas BRG. Hasil kerja Tahun 1 pada lansekap ini -yang mencakup perbaikan manajemen Taman Nasional Sebangau, dan memberi pelatihan konsesi kayu pada RIL-C, serta adanya perjanjian pengelolaan bersama- akan menjadi landasan untuk mencapai perbaikan daerah konservasi pada target wilayah yang terukur selama Tahun 2 dan seterusnya.

Upaya peningkatan kesadaran dan pembinaan secara konsisten difokuskan pada upaya sosialisasi atau komunikasi kepada masyarakat umum dan juga kepada para pembuat kebijakan.

Suatu Kajian atas Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif dan data mengenai dampak pada kesehatan dan kehidupan masyarakat setelah kebakaran. Ibu Siti kemudian bertemu Pak Sumarjito untuk mengetahui lebih banyak mengenai latar belakang beliau dan bagaimana beliau secara aktif mempromosikan praktik pembukaan lahan tanpa membakar. Sebagai akibat dari peliputan media, Pak Sumarjito menjadi semakin terkenal dan dengan demikian pesan mengenai solusi untuk mengelola lahan secara berkelanjutan semakin tersebar kepada khalayak umum.

KLHS ini mendapat pengakuan baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat karena dihasilkan secara tepat waktu dan karena kualitasnya baik. Hal ini mencakup percepatan dan penguatan KPH di kawasan rentan berdasarkan peta ekologi dan bukan berdasarkan batas-batas wilayah administratif, mencabut izin perkebunan di hutan yang bernilai konservasi tinggi dan yang di wilayah lahan gambut, percepatan izin hutan sosial, dan menyelesaikan masa hak guna di kawasan hutan dengan mekanisme IP4T Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah.

Dengan melibatkan para pemangku kepentingan bersama pihak instansi pemerintah di Pulang Pisau dan provinsi Kalimantan Tengah, maka data perizinan dan pemanfaatan lahan dapat diperoleh sehingga dapat terbuka dan dipelajari oleh publik secara efektif. Perangkat SST akan beralih dari bentuk protipe menjadi perangkat yang lengkap setelah dikembangkan pada Tahun 2. Kegiatan yang signifikan selama Tahun 1 juga diarahkan langsung untuk mendukung upaya restorasi lahan gambut yang bertujuan untuk menanggulangi risiko kebakaran hutan dan banjir.

Bendungan ini akan membantu merestorasi fungsi hidrologis dari lahan gambut dengan menaikkan level air pada musim kering dan mengelola banjir pada musim hujan.

Selain itu, sebuah visualisasi tahapan storyboard visualization dibuat untuk disampaikan sebagai informasi bagi para pemangku kepentingan mengenai dampak dari bendungan ini terhadap lansekap, yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Forum MSF Pulang Pisau.

Estimasi biaya pembangunan dam juga telah diselesaikan disertai rencana implementasi selama musim kering pada pertengahan Namun sebelum melangkah lebih lanjut, akan perlu memberi perhatian yang cukup besar pada penguatan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, melaksanakan FPIC yang teliti, dan memastikan bendungan-bendungan yang dibangun tetap bertahan sesuai standar pedoman USAID.

Mengenai program pengelolaan bersama masyarakat, LESTARI membantu menyusun RPJMDes pada 5 desa percontohan yang memasukkan pengelolaan kebakaran terpadu, sistem zonasi dan visi pengelolaan hutan secara kolaboratif ke dalam rencana pembangunan mereka. Berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan lindung, LESTARI terus memberi dukungan untuk implementasi perangkat METT dalam menilai secara kuantitatif dan memonitor kinerja manajemen dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya agar melindungi sumber daya alam di kawasan hutan lindung.

Terkait pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan di wilayah strategis, dilakukan asesmen di lansekap Katingan-Kahayan yang menghasilkan terpilihnya desa target untuk konservasi dan perusahaan hijau green enterprises atau Kemitraan Pemerintah Swasta. Hasil karet dari perkebunan rakyat merupakan komoditas lokal yang pertama dikembangkan dengan mekanisme KPS.

Mitra kerja dalam hal ini termasuk Bank Indonesia yang membantu mendirikan balai pengeringan karet dan lahan demo tanaman karet, menyediakan peralatan dan pupuk organik, dan pabrik penampung karet yang menjadi pembeli. Mengingat banyaknya pihak swasta yang berusaha di atas lahan hutan dan terdapat emisi GRK dan ancaman pada keragaman hayati pada lansekap ini, maka upaya yang dilakukan pada Tahun 1 dipusatkan pada identifikasi peluang yang mendukung sektor swasta menerapkan Praktik Manajemen Terbaik Best Management Practices atau BMP.

Pelaksanaannya akan mulai awal Tahun 2.

Pada bagian akhir, LESTARI menjajaki program terkait ekowisata dalam tahun pertama agar dapat mendukung model pembiayaan yang berkelanjutan untuk konservasi di lansekap Katingan-Kahayan. Kegiatan ini akan berlanjut dengan berkembangnya model usaha ekowisata yang menjadi prioritas tinggi bagi proyek yang terpilih. Papua Di Papua, kegiatan di Tanah Rendah Lorentz dan Lansekap Cyclops dipusatkan pada peningkatan kapasitas pengelola Kawasan Konservasi dan pemberian dukungan bagi program pengelolaan bersama masyarakat di wilayah penyangga.

Di Mappi-Bouven Digoel, kegiatan proyek mencakup penilaian atas perkembangan mata pencarian yang berkelanjutan dan pembatasan pemanfaatan lahan. Namun mengingat situasi politik di Kabupaten Sarmi, kegiatan LESTARI yang terkait program tata kelola dan kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk melindungi hutan ditunda tanpa batas waktu tertentu.

Kegiatan Tahun 1 di Papua termasuk perjanjian pengelolaan bersama, untuk pelatihan RIL- C bagi para pemegang konsesi, dan perbaikan manajemen di Cagar Alam Cyclops akan menjadi landasan untuk mencapai target konservasi yang terukur pada Tahun 2 dan seterusnya. Untuk melaksanakan perjanjian tersebut, LESTARI memfasilitasi penyusunan draft perbup tentang pengelolaan zona penyangga agar memastikan komitmen jangka panjang termasuk alokasi anggaran dari pihak pemerintah kabupaten.

LESTARI juga mulai memberikan percontohan program pengelolaan bersama di 3 desa melalui pembuatan peta secara partisipatif.

Pada Lansekap Tanah Rendah Lorentz, dilakukan kajian lingkungan dan ketahanan sosioekonomi, yang menghasilkan beberapa desa terpilih sebagai percontohan untuk program pengelolaan bersama.

Proses ini dikelola oleh Bappeda dan memasukkan hasil analisis dari para ahli dan hasil dari konsultasi publik memanfaatkan forum MSF. Untuk mendukung akuntabillitas internal dan memperkuat pemahaman atas peran forum MSF serta prosedur operasional MSF, maka disusun protocol yang disederhanakan dan dibuat standardisasi dengan membuat laporan yang menggunakan format laporan tertentu dan diberikan pedoman petunjuk.

Hasil utama dari diskusi forum MSF mencakup: pemanfaatan forum MSF untuk melakukan revisi secara partisipatif terhadap RTRW dan membangun kesadaran akan nilai konservasi yang tinggi bagi pengembangan Rencana Konservasi Lahan LCP di Mappi dan Bouven Digoel; pengembangan Kelompok Kerja Perempuan dan revisi RTRW secara partisipatif di Mimika; dan partisipasi dalam melakukan survei terhadap penyu berhidung babi pig-nosed turtle - Carettochelys insculpta dan pelatihan pengelolaan mangrove bagi perempuan di Asmat.

Pada Lansekap Mappi-Bouven Digoel, dilakukan asesmen awal tentang potensi investasi untuk pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan berbasis komoditas lokal. Hasil dari asesmen ini adalah suatu rencana strategis untuk membina kemitraan dengan pihak swasta dalam mengembangkan dan memperbaiki kehidupan masyarakat lokal. Kegiatan ini akan digabungkan dengan hasil asesmen kecocokan lahan yang digunakan untuk menyusun rencana strategis di seluruh lansekap yang mendukung program lansekap utama: pembatasan pemanfaatan lahan.

Hasil akhir akan dibagi dan dibahas dalam forum MSF dengan pemangku kepentingan yang terkait selama triwulan pertama pada Tahun 2. Terakhir, kegiatan komunikasi, pendampingan dan pengelolaan pengetahuan LESTARI bersifat dinamis dan lintas sektor selama Tahun 1 di seluruh lansekap, dengan secara efektif mendokumentasikan dan melakukan sosialisasi hal-hal utama, pencapaian proyek, praktik terbaik, dan pembelajaran bagi masyarakat luas baik di tingkat internasional maupun di tingkat lokal.

Hal ini memperkuat pesan dari tema teknis yang disebarkan dan mempromosikan kegiatan LESTARI, serta mendukung pembentukan konstituen yang efektif untuk konservasi.

Namun seiring dengan berjalannya Rencana Kerja Tahun 2, berbagai komponen dan kegiatan mulai bersinergi sehingga dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Kegiatan transformatif yang terintegrasi pada sub-lansekap diperlukan sehingga dapat dilakukan replikasi pada seluruh lansekap proyek. Kegiatan yang lebih terperinci pada Rencana Kerja Tahun 2 dapat mengurangi ketergantungan pada SOW yang berbasis proyek dan memastikan kerja berdasarkan aspek teknis yang rutin.

Memastikan para staf dan mitra kerja memahami dan menggunakan ToC terbaru sehingga intervensi LESTARI menunjukkan adanya keterkaitan antara kerusakan hutan dan memperbaiki konservasi keragaman hayati sebagai target secara keseluruhan proyek. Tantangan lain yang juga ditemui di tingkat sektor intra-sektor adalah misalnya Kantor Dinas Pekerjaaan Umum di tingkat Provinsi dan tingkat Kabupaten yang bekerja di KHG14 telah membangun kanal baru.

Program hutan sosial memberikan cukup peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan hutan secara jangka panjang. Dengan komitmen baru Pemerintahan Jokowi untuk mempercepat proses mendapatkan izin hutan sosial dengan membuat prosedur yang lebih sederhana, maka diharapkan izin hutan sosial dapat lebih cepat diperoleh pada lansekap LESTARI. Namun demikian, LESTARI membuka peluang untuk membangun kesepakatan pengelolaan bersama dengan para pengelola kawasan konservasi atau pihak swasta.

Selain itu, pembagian dokumen ringkasan brief telah efektif membantu staf untuk memahami pengetahuan teknis. Peta jalan KPH pada tingkat pusat dan provinsi terutama dalam mengintegrasikan peta tersebut ke dalam peraturan yang berlaku seperti UU no. UU no. The first two quarters were foundational and largely involved project launches, socialization activities, assessments, and field activity start-up.

The latter two quarters focused on deepening existing activities and scaling up synergies through a sublandscape approach.

Advokasi Berbasis Bukti Program Advance Family Planning - PDF

The full Year 1 progress matrix can be found in the appendices of this document. More clearly defined activities in the Year 2 Work Plan will reduce the reliance on project-based SOWs and ensure more routine, technical content-driven work. Ensure staff and partners understand and utilize the improved ToC and therefore LESTARI interventions demonstrate and target links that will deliver the project s overall reduced deforestation and improved biodiversity conservation results.

LESTARI engagement at the provincial level given Law 23 of has been widely welcomed by provincial government and can readily expand what was done in Year 1. MSFs need to broaden their membership in comparison with IFACS MSFs to be truly multi-stakeholder while separating their trust-building function from the activities of working groups pursuing technical themes identified by and reporting to the MSFs.

The institutional challenge of establishing workable stewardship mechanisms in peatlands where KHG and KPH partially overlap, e. Even intra-sectorally there are challenges, e. The social forestry initiatives provide ample opportunities for communities to acquire long term secured access to forests. With the recent commitment from Jokowi s administration to speed up the process of getting social forestry permits through simplifying the procedure, it is hoped that social forestry permits will be obtained faster in LESTARI landscapes.

Nevertheless, LESTARI opens possibilities to pursue forms of co-management agreements such as partnership agreements with conservation area managers or private sector entities. In addition, the provision of briefs and papers has been effective in supporting understanding of technical content. Kedua indikator utama ini, meskipun tidak diukur pada Tahun 1, didukung oleh target yang ditetapkan pada level di bawahnya yang bertujuan untuk memperbaiki tata kelola pemanfaatan lahan dan hutan.

Sejalan dengan ToC yang digunakan oleh LESTARI, hasil yang diharapkan akan menciptakan kondisi yang kondusif yang diperlukan untuk mencapai dua sasaran induk tersebut di atas. Namun indikatorindikator yang tertinggal ini diharapkan dapat dikejar pada Tahun 2.

Pada dua triwulan pertama dibangun landasan dasar proyek dengan meluncurkan proyek-proyek di seluruh lansekap, dengan sosialisasi kegiatan, penilaian teknis dan kegiatan awal di lapangan. Kemudian pada dua triwulan berikutnya, difokuskan pada pendalaman kegiatan yang sudah berjalan dan memperkuat sinergi melalui pendekatan sub-lansekap.

Pendekatan sublansekap ini menjadi peluang untuk melakukan replikasi pada semua lansekap proyek, memastikan keberlanjutan dari pelaksanaan program proyek, dan oleh karena itu diharapkan dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya perubahan yang transformatif Pada awal Tahun 1, dokumen-dokumen utama dari proyek telah dibuat dan disebarkan termasuk dokumen Landscape Baseline Analysis Analisis Data Dasar Lansekap , Rencana Kerja Tahunan Pertama First Annual Work Plan , Rencana Kegiatan Monitoring dan Evaluasi Activity Monitoring and Evaluation Plan , dan Rencana Pengelolaan Hibah Grants Management Plan.

Kebijakan penting yang berhasil disusun pada Tahun 1 mencakup: 1 Peraturan Gubernur yang membatasi penggunaan teknis pembakaran untuk membuka lahan di Kalimantan Tengah, 2 Peraturan Bupati di Aceh Tengara yang memungkinkan pemanfaatan Dana Desa untuk konservasi hutan berbasis masyarakat, 3 suatu Qanun tentang perlindungan dan pengelolaan lingkungan di Aceh Selatan, dan 4 SK Dirjen mengenai penggunaan METT untuk menilai dan memperbaiki pengelolaan Kawasan Lindung PA.

Selama Tahun 1, staff senior LESTARI telah memberikan dukungan dan bimbingan kepada para staff dan mitra kerja di lansekap proyek, meningkatkan kemampuan mereka agar dapat memberikan hasil kerja konservasi lansekap dan keragaman hayati yang menghasilkan dampak yang berkelanjutan. Manajemen senior dari proyek LESTARI juga telah menjalin kerja secara berkala dengan para sub-kontraktor untuk memastikan dukungan teknis yang efisien dan efektif untuk proyek. Program LESTARI MIS, dirancang dan dikelola dan diluncurkan untuk menjalankan operasi proyek, untuk berbagi informasi secara internal, dan melacak kegiatan lapangan di lansekap dengan cara yang efisien.

Pada Tahun 1, kegiatan Hibah terutama sangat banyak, termasuk pemberian penghargaan kepada organisasi lokal yang melakukan konservasi orangutan di Lansekap Leuser dan Katingan-Kahayan. Menjelang akhir tahun, dilakukan kegiatan penyusunan Rencana Kerja Tahun 2 untuk semua lansekap yang mencerminkan hasil kemajuan dari Tahun 1 dan mengembangkan strategi dan kegiatan untuk Tahun 2 secara rinci.

Dengan menyusun Rencana Kerja Tahun 2 yang rinci, maka akan mengurangi kebutuhan akan SOW berbasis proyek dan akan meningkatkan efisiensi. Perlu dicatat, kemajuan dari setiap alur ToC berbeda pada berbagai lansekap contoh SA1: Kesadaran dan Pembinaan yang paling maju terjadi di Kalimantan Tengah karena pendampingan dari media dan kegiatan yang melibatkan masyarakat dipimpin oleh Mongabay. Rincian dari kemajuan tiap lansekap disajikan pada bagian lansekap pada laporan ini.

Advokasi Berbasis Bukti Program Advance Family Planning

Aceh Di Aceh, upaya LESTARI difokuskan pada pelestarian hutan yang kaya nilai konservasi dan nilai keragaman hayati di dalam wilayah Taman Nasional Leuser melalui kolaborasi yang erat dengan pemerintah daerah, bersama pihak otoritas taman nasional, dan masyarakat lokal. Satu MoU telah ditandatangani oleh Dinas Kehutanan Provinsi, yang mewajibkan mereka untuk menjalankan kerjasama dalam rangka meningkatkan pengelolaan hutan yang lebih baik KPHL pada tingkat lansekap. Hasil kerja Tahun 1 pada lansekap ini yang didukung KPH, dan perjanjian pengelolaan bersama, serta pengelolaan yang lebih efektif dari Taman Nasional Leuser akan menjadi landasan dasar untuk mencapai target di wilayah yang berada dalam target konservasi pada Tahun 2 dan seterusnya.

Bersamaan dengan hal itu, LESTARI mendukung kegiatan nyata di lapangan guna membantu memonitor, mendeteksi, dan mencegah pembalakan liar dan pelanggaran hukum terkait satwa liar yang dilindungi. Suatu Unit Tanggap Cepat untuk Satwa Liar mulai beroperasi agar dapat langsung berhubungan dengan masyarakat dalam mengatasi konflik antara manusia dan satwa liar, sementara terdapat juga satu Unit Pemantauan Pelanggaran Hukum terkait perdagangan satwa liar yang dilindungi.

Kamera pelacak dpasang untuk memonitor penyebaran dan jumlah populasi dari spesies satwa yang berada di Taman Nasional agar dapat menentukan wilayah mana yang paling tepat untuk melakukan upaya konservasi alam. RDTR merupakan rencana tata ruang pada tingkat daerah, memfasilitasi masyarakat daerah dan pihak sektor swasta untuk membangun rasa memiliki.

Setelah diadakan pertemuan teknis, Bupati membentuk tim teknis untuk merumuskan SK Bupati di Aceh Tenggara untuk dapat mengelola dan memanfaatkan Dana Desa bagia kegiatan konservasi hutan yang berbasis masyarakat. Mengingat besarnya jumlah masyarakat yang tinggal di zona penyangga di Taman Nasional Leuser, maka dukungan untuk program pengelolaan bersama hutan digiatkan dan diutamakan selama Tahun 1. Karena mendapat dukungan sepenuhnya dari para pemangku adat, LESTARI akan mendukung 13 desa di lansekap ini agar memperoleh izin untuk mengelola kawasan ini melalui program hutan sosial.

Dalam membangun sinergi melalui program pengelolaan bersama co-management initiatives , LESTARI juga mendukung program untuk memfasilitasi masyarakat setempat agar dapat menjalankan mata pencaharian yang berkelanjutan di kawasan strategis, zona penyangga agar dapat mengurangi perambahan hutan dan kerusakan hutan di Lansekap Leuser. KPS ini bertujuan meningkatkan kehidupan petani dengan memastikan harga jual yang lebih baik, akses pasar yang lebih mudah, praktik pertanian yang juga lebih baik.

Kegiatan ini mencakup kegiatan yang mengidentifikasi kepentingan pemerintah daerah dan mengidentifikasi lokasi yang berdekatan yang dapat dimasukkan sebagai tujuan ekowisata. Kegiatan ini akan berlanjut seiring dengan perkembangan model bisnis ekowisata yang menjadi prioritas tertinggi pada daftar proyek yang terpilih.

Fokus kegiatan dipusatkan pada wilayah selatan lansekap di Kabupaten Pulang Pisau, dengan menggunakan analisis GIS dan gambar dari hasil pemotretan drone yang menunjukkan jumlah titik api yang sangat banyak di hutan dan di lahan gambut yang menghancurkan kawasan masyarakat setempat.

Oleh karena itu, ketiga tema teknis diarahkan untuk mengedepankan pengelolaan kebakaran yang terintegrasi dan restorasi lahan gambut, berkoordinasi dengan BRG serta mendukung kegiatan prioritas BRG. Hasil kerja Tahun 1 pada lansekap ini -yang mencakup perbaikan manajemen Taman Nasional Sebangau, dan memberi pelatihan konsesi kayu pada RIL-C, serta adanya perjanjian pengelolaan bersama- akan menjadi landasan untuk mencapai perbaikan daerah konservasi pada target wilayah yang terukur selama Tahun 2 dan seterusnya.

Upaya peningkatan kesadaran dan pembinaan secara konsisten difokuskan pada upaya sosialisasi atau komunikasi kepada masyarakat umum dan juga kepada para pembuat kebijakan. Suatu Kajian atas Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan dilakukan untuk memperoleh data kuantitatif dan data mengenai dampak pada kesehatan dan kehidupan masyarakat setelah kebakaran. Ibu Siti kemudian bertemu Pak Sumarjito untuk mengetahui lebih banyak mengenai latar belakang beliau dan bagaimana beliau secara aktif mempromosikan praktik pembukaan lahan tanpa membakar.

Sebagai akibat dari peliputan media, Pak Sumarjito menjadi semakin terkenal dan dengan demikian pesan mengenai solusi untuk mengelola lahan secara berkelanjutan semakin tersebar kepada khalayak umum. KLHS ini mendapat pengakuan baik dari pemerintah daerah maupun dari pemerintah pusat karena dihasilkan secara tepat waktu dan karena kualitasnya baik.

Hal ini mencakup percepatan dan penguatan KPH di kawasan rentan berdasarkan peta ekologi dan bukan berdasarkan batas-batas wilayah administratif, mencabut izin perkebunan di hutan yang bernilai konservasi tinggi dan yang di wilayah lahan gambut, percepatan izin hutan sosial, dan menyelesaikan masa hak guna di kawasan hutan dengan mekanisme IP4T Inventarisasi Penguasaan, Pemilikan, Penggunaan, dan Pemanfaatan Tanah.

Dengan melibatkan para pemangku kepentingan bersama pihak instansi pemerintah di Pulang Pisau dan provinsi Kalimantan Tengah, maka data perizinan dan pemanfaatan lahan dapat diperoleh sehingga dapat terbuka dan dipelajari oleh publik secara efektif.

Perangkat SST akan beralih dari bentuk protipe menjadi perangkat yang lengkap setelah dikembangkan pada Tahun 2. Kegiatan yang signifikan selama Tahun 1 juga diarahkan langsung untuk mendukung upaya restorasi lahan gambut yang bertujuan untuk menanggulangi risiko kebakaran hutan dan banjir.

Bendungan ini akan membantu merestorasi fungsi hidrologis dari lahan gambut dengan menaikkan level air pada musim kering dan mengelola banjir pada musim hujan. Selain itu, sebuah visualisasi tahapan storyboard visualization dibuat untuk disampaikan sebagai informasi bagi para pemangku kepentingan mengenai dampak dari bendungan ini terhadap lansekap, yang mendapat dukungan sepenuhnya dari Forum MSF Pulang Pisau.

Estimasi biaya pembangunan dam juga telah diselesaikan disertai rencana implementasi selama musim kering pada pertengahan Namun sebelum melangkah lebih lanjut, akan perlu memberi perhatian yang cukup besar pada penguatan dukungan masyarakat dan pemerintah daerah, melaksanakan FPIC yang teliti, dan memastikan bendungan-bendungan yang dibangun tetap bertahan sesuai standar pedoman USAID.

100 business leaders of pakistan book pdf 2013

Mengenai program pengelolaan bersama masyarakat, LESTARI membantu menyusun RPJMDes pada 5 desa percontohan yang memasukkan pengelolaan kebakaran terpadu, sistem zonasi dan visi pengelolaan hutan secara kolaboratif ke dalam rencana pembangunan mereka. Berkaitan dengan pengelolaan kawasan hutan lindung, LESTARI terus memberi dukungan untuk implementasi perangkat METT dalam menilai secara kuantitatif dan memonitor kinerja manajemen dan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya agar melindungi sumber daya alam di kawasan hutan lindung.

Terkait pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan di wilayah strategis, dilakukan asesmen di lansekap Katingan-Kahayan yang menghasilkan terpilihnya desa target untuk konservasi dan perusahaan hijau green enterprises atau Kemitraan Pemerintah Swasta.

Hasil karet dari perkebunan rakyat merupakan komoditas lokal yang pertama dikembangkan dengan mekanisme KPS. Mitra kerja dalam hal ini termasuk Bank Indonesia yang membantu mendirikan balai pengeringan karet dan lahan demo tanaman karet, menyediakan peralatan dan pupuk organik, dan pabrik penampung karet yang menjadi pembeli.

Mengingat banyaknya pihak swasta yang berusaha di atas lahan hutan dan terdapat emisi GRK dan ancaman pada keragaman hayati pada lansekap ini, maka upaya yang dilakukan pada Tahun 1 dipusatkan pada identifikasi peluang yang mendukung sektor swasta menerapkan Praktik Manajemen Terbaik Best Management Practices atau BMP.

Pelaksanaannya akan mulai awal Tahun 2. Pada bagian akhir, LESTARI menjajaki program terkait ekowisata dalam tahun pertama agar dapat mendukung model pembiayaan yang berkelanjutan untuk konservasi di lansekap Katingan-Kahayan.

Kegiatan ini akan berlanjut dengan berkembangnya model usaha ekowisata yang menjadi prioritas tinggi bagi proyek yang terpilih.

Papua Di Papua, kegiatan di Tanah Rendah Lorentz dan Lansekap Cyclops dipusatkan pada peningkatan kapasitas pengelola Kawasan Konservasi dan pemberian dukungan bagi program pengelolaan bersama masyarakat di wilayah penyangga. Di Mappi-Bouven Digoel, kegiatan proyek mencakup penilaian atas perkembangan mata pencarian yang berkelanjutan dan pembatasan pemanfaatan lahan.

Namun mengingat situasi politik di Kabupaten Sarmi, kegiatan LESTARI yang terkait program tata kelola dan kegiatan yang melibatkan masyarakat untuk melindungi hutan ditunda tanpa batas waktu tertentu. Kegiatan Tahun 1 di Papua termasuk perjanjian pengelolaan bersama, untuk pelatihan RIL- C bagi para pemegang konsesi, dan perbaikan manajemen di Cagar Alam Cyclops akan menjadi landasan untuk mencapai target konservasi yang terukur pada Tahun 2 dan seterusnya. Untuk melaksanakan perjanjian tersebut, LESTARI memfasilitasi penyusunan draft perbup tentang pengelolaan zona penyangga agar memastikan komitmen jangka panjang termasuk alokasi anggaran dari pihak pemerintah kabupaten.

LESTARI juga mulai memberikan percontohan program pengelolaan bersama di 3 desa melalui pembuatan peta secara partisipatif. Pada Lansekap Tanah Rendah Lorentz, dilakukan kajian lingkungan dan ketahanan sosioekonomi, yang menghasilkan beberapa desa terpilih sebagai percontohan untuk program pengelolaan bersama.

Proses ini dikelola oleh Bappeda dan memasukkan hasil analisis dari para ahli dan hasil dari konsultasi publik memanfaatkan forum MSF. Untuk mendukung akuntabillitas internal dan memperkuat pemahaman atas peran forum MSF serta prosedur operasional MSF, maka disusun protocol yang disederhanakan dan dibuat standardisasi dengan membuat laporan yang menggunakan format laporan tertentu dan diberikan pedoman petunjuk.

Hasil utama dari diskusi forum MSF mencakup: pemanfaatan forum MSF untuk melakukan revisi secara partisipatif terhadap RTRW dan membangun kesadaran akan nilai konservasi yang tinggi bagi pengembangan Rencana Konservasi Lahan LCP di Mappi dan Bouven Digoel; pengembangan Kelompok Kerja Perempuan dan revisi RTRW secara partisipatif di Mimika; dan partisipasi dalam melakukan survei terhadap penyu berhidung babi pig-nosed turtle - Carettochelys insculpta dan pelatihan pengelolaan mangrove bagi perempuan di Asmat.

Pada Lansekap Mappi-Bouven Digoel, dilakukan asesmen awal tentang potensi investasi untuk pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan berbasis komoditas lokal. Hasil dari asesmen ini adalah suatu rencana strategis untuk membina kemitraan dengan pihak swasta dalam mengembangkan dan memperbaiki kehidupan masyarakat lokal. Kegiatan ini akan digabungkan dengan hasil asesmen kecocokan lahan yang digunakan untuk menyusun rencana strategis di seluruh lansekap yang mendukung program lansekap utama: pembatasan pemanfaatan lahan.

Hasil akhir akan dibagi dan dibahas dalam forum MSF dengan pemangku kepentingan yang terkait selama triwulan pertama pada Tahun 2. Terakhir, kegiatan komunikasi, pendampingan dan pengelolaan pengetahuan LESTARI bersifat dinamis dan lintas sektor selama Tahun 1 di seluruh lansekap, dengan secara efektif mendokumentasikan dan melakukan sosialisasi hal-hal utama, pencapaian proyek, praktik terbaik, dan pembelajaran bagi masyarakat luas baik di tingkat internasional maupun di tingkat lokal.

Hal ini memperkuat pesan dari tema teknis yang disebarkan dan mempromosikan kegiatan LESTARI, serta mendukung pembentukan konstituen yang efektif untuk konservasi. Namun seiring dengan berjalannya Rencana Kerja Tahun 2, berbagai komponen dan kegiatan mulai bersinergi sehingga dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Kegiatan transformatif yang terintegrasi pada sub-lansekap diperlukan sehingga dapat dilakukan replikasi pada seluruh lansekap proyek.

Kegiatan yang lebih terperinci pada Rencana Kerja Tahun 2 dapat mengurangi ketergantungan pada SOW yang berbasis proyek dan memastikan kerja berdasarkan aspek teknis yang rutin. Memastikan para staf dan mitra kerja memahami dan menggunakan ToC terbaru sehingga intervensi LESTARI menunjukkan adanya keterkaitan antara kerusakan hutan dan memperbaiki konservasi keragaman hayati sebagai target secara keseluruhan proyek.

Tantangan lain yang juga ditemui di tingkat sektor intra-sektor adalah misalnya Kantor Dinas Pekerjaaan Umum di tingkat Provinsi dan tingkat Kabupaten yang bekerja di KHG14 telah membangun kanal baru. Program hutan sosial memberikan cukup peluang bagi masyarakat untuk memanfaatkan hutan secara jangka panjang.