Indonesia Menggugat! Menelusuri Pandangan Soekarno terhadap Hukum1 Yance Arizona2 Abstrak 'Indonesia Menggugat' merupakan pledoi yang dibacakan. For more options, visit aracer.mobi aracer.mobi>. Sign in to reply. 4/1/14 safribur. I was recently reminded that Soekarno’s birthday is in June, and then remembered a visit to the former Dutch Landraad courthouse in Bandung. It was here in that Soekarno gave his famous speech against colonialism, ‘Indonesia Menggugat’ or ‘Indonesia Accuses’ in the.

Author:TAMEKA MIDDLEKAUFF
Language:English, Spanish, Portuguese
Country:Liechtenstein
Genre:Science & Research
Pages:323
Published (Last):21.05.2016
ISBN:705-2-61964-584-3
Distribution:Free* [*Registration needed]
Uploaded by: DAYSI

53688 downloads 175536 Views 28.44MB PDF Size Report


Indonesia Menggugat Pdf

"Indonesia Accuses" is a speech read by future President of Indonesia Sukarno in his defense "Andi Mallarangeng ingin tiru pledoi Bung Karno 'Indonesia Menggugat'". Retrieved 29 Create a book · Download as PDF · Printable version. Request PDF on ResearchGate | Indonesia. Menggugat historiografi Indonesia. By BAMBANG PURWANTO and ASVI WARMAN ADAM. Yogyakarta: Ombak. This edition supercedes Indonesia: A Country Study, published in. The authors wish authorities, entitled “Indonesia Menggugat!” (Indonesia Accuses !).

Skip to main content. Log In Sign Up. Indonesia Menggugat! Yance Arizona. Bung Karno, bersama tiga rekannya: Dari balik jeruji penjara Bung Karno menyusun dan menulis sendiri pledoinya tersebut. Isinya mengupas keadaan politik internasional dan kerusakan masyarakat Indonesia di bawah penjajah. Pidato pembelaan ini kemudian menjelma menjadi suatu dokumen politik menentang kolonialisme dan imperialisme. Selain dokumen politik tentunya dokumen tersebut merupakan sumber kajian hukum yang tidak kalah pentingnya.

Pledoi yang begitu menggemparkan tersebut diberi judul: Dalam bahasa Inggris diterjemahkan menjadi Indonesia Accuses, atau Indonesie klaagt aan dalam bahasa Belanda. Telah banyak penelitian sejarah yang menjadikan pledoi tersebut sebagai bahan kajian, misalkan kajian Roger G Paget yang mengedit, menerjemahkan dan menyusun anotasi atas dokumen tersebut yang diterbitkan dengan judul Indonesia Accuses! Ideology and Politics, Ithaca and London: Cornell University.

Biografi pemikiran Jakarta, Komunitas Bambu, Belum banyak peneliti mengkaji dimensi hukum terhadap dokumen tersebut, padahal kedudukannya adalah sebagai sebuah pembelaan yang dibacakan di depan pengadilan. Tulisan ini menelusuri persoalan hukum dan pemikiran hukum Soekarno yang tertuang dalam Pledoi Indonesia Menggugat. Oleh karena itu, inti pembahasan dari tulisan ini berkaitan dengan teks sekaligus konteks dimana pledoi tersebut dibacakan.

Meskipun demikian, pada akhir bagian juga akan dikemukakan bagaimana pledoi tersebut memberikan inspirasi dalam menghadapi persoalan kekinian. Tulisan ini terdiri dari tujuh bagian. Bagian pertama merupakan pengantar yang kemudian disusul dengan bagian kedua yang menjelaskan tentang persidangan yang dihadapi oleh Soekarno dan tiga teman lainnya di hadapan Pengadilan Landraad Bandung.

Berikutnya tentang kritik terhadap kapitalisme dan imperialism, keresahan agraria, pandangan terhadap hukum, haatzaai artikelen dan inspirasi Indonesia Menggugat untuk konteks kekinian. Begitu Soekarno menggambarkan dirinya dalam otobiografinya yang dituliskan oleh Cindy Adams, seorang jurnalis di New York Post. Dia mengaitkan pula kepribadiannya itu dengan zodiak Gemini yang disimbolkan dengan manusia kembar.

Soekarno dilahirkan di bagian timur pulau Jawa, ketika fajar menyingsing dan ayam pertama berkokok pada pagi itu, 6 Juni Ia hadir pada awal zaman baru dimana fajar, pencerahan, cahaya, suar, obor mulai menerangi kepulauan nusantara yang sebelumnya telah lama dikerubungi awan gelap ulah bercokolnya kolonialisme di langit-langit nusantara. Soekarno kecil dilahirkan dengan nama Koesno Sosrodihardjo.

Karena sering sakit, namanya diubah menjadi Ahmad Soekarno, namun ia lebih menggunakan nama Soekarno saja. Ia bersekolah pertama kali di Tulung Agung kemudian pindah ke Mojokerto mengikuti orangtuanya yang ditugaskan di kota tersebut. Ia dapat diterima di HBS atas bantuan seorang kawan bapaknya yang bernama H. Tjokroaminoto, yang kelak menjadi mertua, guru sekaligus sahabat seperjuangannya. Di rumah Tjokroaminoto itulah Soekarno mulai berkenalan dengan dunia pergerakan. Tjokroaminoto telah menjelma menjadi tokoh sentral yang paling disegani Belanda pada masa itu, ia dianggap sebagai Ratu Adil dalam mitologi Jawa karena menurut peramalannya, Ratu Adil akan tambil dalam wujud Herucokro, nama yang mirip dengan Tjokroaminoto.

Di rumah Tjokroaminoto itu Soekarno berkenalan dengan rekan- rekan seperjuangan yang kemudian menjadi bermusuhan dengannya ketika republik telah berdiri, seperti Kartosoewiryo dan Musso.

Prima dosa

Di situ orientasi ideologi politik Soekarno mulai terbentuk. Pada masa itu, kaum pergerakan mulai berkembang di Bandung yang menjadikan kota itu sebagai pusat alam pemikiran nasionalis sekuler Kasenda, Pada masa itu, Surabaya menjadi pusat pergerakan kaum Islam, Semarang menjadi pusat pergerakan kelompok komunis dan Bandung menjadi taman pemikiran kelompok nasionalis.

Di Bandung Soekarno berkenalan dengan tokoh nasionalis sekuler seperti E. E Douwes Dekker, Dr. Tjiptomangunkusumo dan Ki Hajar Dewantara. Yang tidak kalah penting adalah pertemuan Soekarno dengan Kang Marhaen, seorang petani di selatan Bandung. Pada suatu ketika, Soekarno yang pada masa itu berusia 20 tahun sedang bersepeda ke bagian selatan Kota Bandung, suatu daerah pertanian yang padat penduduk dan setiap petani memiliki tanah kurang dari satu hektar Adams, Marhaen itulah yang kemudian dijadikan oleh Soekarno sebagai representasi dari kaum lemah, sengsara dan tertindas akibat kekejaman kolonialisme dan imperialism di Indonesia.

Soekarno sebenarnya sempat kembali ke Surabaya untuk membantu keluarga Tjokroaminoto ketika mereka harus kehilangan Tjokroaminoto karena dipenjara Belanda setelah Peristiwa Afedling B di Garut. Soekarno kembali ke Bandung setelah menceraikan Oetari, putri Tjokroaminoto dan kemudian menikahi Inggit Garnasih, ibu kos-nya waktu di Bandung dahulu. Pada masa itu Soekarno semakin aktif dalam dunia pergerakan.

Persidangan Soekarno Cs Pergerakan Soekarno semakin memberikan pengaruh terhadap kalangan pejuang kemerdekaan yang sedang mulai melakukan konsolidasi seperti dengan mengadakan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober Pengaruh dari agitasi yang dilakukan Soekarno sanggup menggerakkan rakyat banyak merupakan ancaman nyata bagi Belanda. Apalagi bila Soekarno yang berpidato, rakyat berkumpul seperti semut.

Soekarno ditakuti karena daya hasutnya yang luar biasa. Penguasa kolonial kemudian memerintahkan penangkapan terhadapnya ketika ia sedang bermalam di Jawa Tengah pada bulan Desember Seorang inspektur dengan 50 pasukan pada malam itu dengan nada yang agak tinggi mengatakan kepada Soekarno: Di sinilah Soekarno menuliskan pledoi Indonesia Menggugat. Soekarno menghabiskan masa-masa di ruang tahanan Blok F, Nomor 5 yang berukuran 1,5 X 2,5 meter dengan setumpuk buku.

Buku-buku tersebut ia peroleh dari istrinya Inggit, yang tekun menyelundupkan buku lewat stagen. Penjara memberikan ruang refleksi yang luar biasa bagi Soekarno untuk belajar dan mempersiapkan gagasan baru menuju Indonesia Merdeka.

Tak kurang ada sekira 66 nama tokoh yang dikutip Soekarno dalam Indonesia Menggugat. Het is de terreur met de wet in de hand Soekarno Soekarno sadar sekali bahwa proses peradilan terhadapnya bukanlah murni persoalan hukum, melainkan peradilan politik. Oleh karena itulah, Soekarno menuliskan sendiri pledoinya dengan meminta pengacaranya, Sastromuljono S. Dalam menghadapi persidangan, Soekarno dan teman-temannya didampingi oleh Suyudi S.

Para pembela mereka mendampingi Soekarno Cs secara prodeo. Sedangkan hakim yang menangani perkara tersebut adalah Mr. Siegenbeek van Heukelom. Pada 18 Agustus , setelah delapan bulan meringkuk dalam tahanan. Mereka dituduh "mengambil bagian dalam suatu organisasi yang mempunyai tujuan menjalankan kejahatan di samping Bahkan Soekarno menyebutnya aturan karet yang keliwat karetnya aller-ergelijkst elastieke bepaling.

Di halaman awal pembelaannya Soekarno menuliskan: Soekarno secara basa-basi menyampaikan bahwa percaya bahwa hakim akan berdiri sama tengah. Ia tahu bahwa hakim-hakim Landraad Bandung tersebut sudah punya pandangan politik tertentu sebelum menangani perkara yang dikenakan kepadanya. Belum lagi ditambah dengan pemberitaan dari koran-koran yang ada pada masa itu seperti AID de Preangerbode dan surat kabar lainnya yang menghasut agar hakim menghukum kelompok Soekarno.

Soekarno tidak peduli dengan sikap politik para hakim tersebut. Pembacaan pledoi dijadikannya sebagai panggung untuk memaparkan kemelaratan bangsa Indonesia ulah berkubangnya kolonialisme serta memaparkan apa yang dilakukannya dengan organisasi PNI dan PPPKI. Proses persidangan terhadap Soekarno Cs berlangsung sebanyak 19 kali sidang Adams, Hukuman Soekarno yang paling berat.

Ia dikenakan empat tahun kurungan dalam sel dengan ukuran satu setengah kali dua seperempat meter. Perkara tersebut naik banding ke Rand van Justitie, akan tetapi pengadilan tinggi ini tetap berpegang kepada keputusan hukuman. Tidak lama setelah itu mereka dipindahkan ke dalam lingkungan dinding tembok yang tinggi dari penjara Sukamiskin. Persidangan tersebut tidak saja menggemparkan kaum pergerakan Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Belanda.

Kaum oposisi di Belanda mengangkat persoalan peradilan Soekarno sebagai kritik atas kegagalan pemerintah Belanda dalam mengendalikan negara koloninya. Meskipun majelis hakim mengganjarnya dengan hukuman 4 tahun penjara. Alhasil, dihari terakhir sebelum tahun , yaitu pada 31 Desember , ia dibebaskan. Kritik terhadap kapitalisme dan imprerialisme Di dalam pledoinya tersebut, Soekarno mengupas persoalan kapitalisme dan imperialisme yang telah menjadi persoalan berabad-abad di kepulauan Indonesia.

Live a Reply

Ia memberi pengertian atas imperialisme sebagai: Nafsu akan rezeki itulah yang telah menjadi kunci utama bagi beradab-abad pendindasan terhadap orang pribumi.

Di hadapan persidangan Soekarno menyampaikan: Nafsu akan rezekilah jang mendjadi njawanjya kompeni di dalam abad ke- 17 dan ke; nafsu akan rezekilah pula jang mendjadi sendi-sendinja balapan tjari djadjahan dalam abad ke, jakni sesudah kapitalisme modern mendjelma di Eropah dan Amerika Soekarno, Soekarno tidak saja menyandarkan dirinya pada pandangan kelompok Marxis, ia juga mengutip sejumlah pandangan dari kelompok sosialis Eropa, laporan-laporan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, gerakan Mahatma Gandhi di India dan juga para pejuang-pejuang Islam seperti Agus Salim.

Cara ini dilakukan oleh Soekarno bukan saja untuk menunjukan luasnya pendekatan yang dapat digunakan untuk membongkar persoalan ketidakadilan yang dialami oleh rakyat pribumi, tetapi juga untuk memberikan dasar-dasar ideologis pemikiran nasionalismenya yang mencoba mempertemukan berbagai ideologi di bawah Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme.

Pendjadjahan ialah usaha Soekarno membagi imperialisme menjadi mengolah tanah, mengolah harta- imperialisme tua dan imperialisme modern. Sedangkan hewan-hewan dan terutama imperialisme modern menggunakan cara-cara mengolah penduduk, untuk baru yang kadang lebih halus, tetapi lebih keuntungan keperluan ekonomi memberikan derita. Dengan menganggap inti persoalannya adalah persoalan ekonomi, maka nuansa Marxis terasa kuat dalam pledoi yang dibacakan tersebut. Keresahan agraria Satu hal lagi yang juga terasa ketika mempelajari pledoi Indonesia Menggugat adalah suatu pembacaan terhadap situasi-situasi rakyat pribumi yang mengalami keresahan akibat dari kapitalism-agraria yang dikembangkan oleh penguasa kolonial.

Keresahan-keresahan agraria itu merupakan sebab dari lahirnya sekalian gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejalan dengan tesis Erich Jacoby dalam bukunya Agrarian Unrest in Southeast Asia bahwa perjuangan kemerdekaan negara-negara dunia ketiga, tidak terlepas dari timbulnya keresahan agraris agrarian unrest akibat merebaknya kapitalisme-agraria yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial Jacoby, Sebagaimana dikutip oleh Noer Fauzi, Jacoby menuliskan: Apa yang disampaikan oleh Jacoby tidaklah berlebihan.

Beberapa tulisan yang dibuat oleh para pejuang republik membenarkan kesimpulan tersebut. Bahkan lebih lanjut Soekarno mengajukan kritik terhadap berlakunya Agrarische Wet Pledoi yang dibacakan pada Pengadilan Bandung pada tahun Diterbitkan oleh SK Seno, Jakarta.

Indonesia Accuses - Wikipedia

Cetakan Kedua, Tahun Imperialisme tua makin lama makin laju, imperialisme modern menggantikan tempatnja, tjara pengedukan harta jang menggali untung bagi negara Belanda itu, makin lama makin berobah, terdesak oleh tjara pengedukan baru jang mengajakan model partikulir.

Tjara pengedukan berobah, - tetapi banjakkah perobahan bagi rakjat Indonesia? Kegiatannya di organisasi tersebut sempat mengantarkannya mendekam di hotel prodeo di Belanda. Pledoinya yang berjudul Indonesia Free Indonesia Merdeka berisi gugatan terhadap sistem ekonomi kolonial, yang berkarakter kapitalisme-agraris, yang telah merugikan rakyat pribumi. Sebelum pledoi Soekarno dan Mohamad Hatta tersebut, di dalam Naar de Republiek Indonesia Menuju Republik Indonesia ,4 Tan Malaka pada tahun telah memikirkan program aksi untuk mengatasi keresahan-keresahan agraria ulah berkubangnya kapitalisme kolonial di Indonesia.

Program ekonomi yang dirancangnya di dalam naskah tersebut antara lain menghasut: Menghapuskan sisa-sisa feodal dan tanah-tanah partikelir dan membagikan yang tersebut belakangan ini kepada petani melarat dan proletar. Yayasan Massa.

Tjipto Mangoenkoesoemo mengajukan tuntutan kepada Directuer van Landbouw untuk mengurangi areal penanaman tebu yang pada masa itu telah menjadi sumber kemelaratan dan penyakit warga pribumi. Iwa Kusumasumantri dengan nama samaran S. Buku yang diterbitkan pada tahun itu menjelaskan berbagai persoalan agraria yang dihadapi oleh penduduk pribumi dan pergerakan-pergerakan yang mereka lakukan sebagai respons atas kapitalisme agraria yang dirawat beradab-abad oleh penguasa kolonial.

Bahkan Soekarno menyebutnya aturan karet yang keliwat karetnya aller-ergelijkst elastieke bepaling. Page 6 of 18 Soekarno mengawali pledoi Indonesia Menggugat dengan menyampaikan bahwa proses peradilan yang sedang dilakukan terhadapnya adalah sebuah proses politik penguasa kolonial untuk membungkam gerakan nasional yang mulai tumbuh sejak dekade awal abad XX.

Soekarno secara basa-basi menyampaikan bahwa percaya bahwa hakim akan berdiri sama tengah. Ia tahu bahwa hakim-hakim Landraad Bandung tersebut sudah punya pandangan politik tertentu sebelum menangani perkara yang dikenakan kepadanya.

Belum lagi ditambah dengan pemberitaan dari koran-koran yang ada pada masa itu seperti AID de Preangerbode dan surat kabar lainnya yang menghasut agar hakim menghukum kelompok Soekarno. Soekarno tidak peduli dengan sikap politik para hakim tersebut.

Pembacaan pledoi dijadikannya sebagai panggung untuk memaparkan kemelaratan bangsa Indonesia ulah berkubangnya kolonialisme serta memaparkan apa yang dilakukannya dengan organisasi PNI dan PPPKI.

Proses persidangan terhadap Soekarno Cs berlangsung sebanyak 19 kali sidang Adams, Hukuman Soekarno yang paling berat. Ia dikenakan empat tahun kurungan dalam sel dengan ukuran satu setengah kali dua seperempat meter. Perkara tersebut naik banding ke Rand van Justitie, akan tetapi pengadilan tinggi ini tetap berpegang kepada keputusan hukuman.

Tidak lama setelah itu mereka dipindahkan ke dalam lingkungan dinding tembok yang tinggi dari penjara Sukamiskin. Persidangan tersebut tidak saja menggemparkan kaum pergerakan Indonesia, tetapi juga sampai ke negeri Belanda. Kaum oposisi di Belanda mengangkat persoalan peradilan Soekarno sebagai kritik atas kegagalan pemerintah Belanda dalam mengendalikan negara koloninya. Meskipun majelis hakim mengganjarnya dengan hukuman 4 tahun penjara. Alhasil, dihari terakhir sebelum tahun , yaitu pada 31 Desember , ia dibebaskan.

Kritik terhadap kapitalisme dan imprerialisme Di dalam pledoinya tersebut, Soekarno mengupas persoalan kapitalisme dan imperialisme yang telah menjadi persoalan berabad-abad di kepulauan Indonesia.

Nafsu akan rezeki itulah yang telah menjadi kunci utama bagi beradab-abad pendindasan terhadap orang pribumi. Nafsu akan rezekilah jang mendjadi njawanjya kompeni di dalam abad ke- 17 dan ke; nafsu akan rezekilah pula jang mendjadi sendi-sendinja balapan tjari djadjahan dalam abad ke, jakni sesudah kapitalisme modern mendjelma di Eropah dan Amerika Soekarno, Soekarno tidak saja menyandarkan dirinya pada pandangan kelompok Marxis, ia juga mengutip sejumlah pandangan dari kelompok sosialis Eropa, laporan-laporan dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda, gerakan Mahatma Gandhi di India dan juga para pejuang-pejuang Islam seperti Agus Salim.

Cara ini dilakukan oleh Soekarno bukan saja untuk menunjukan luasnya pendekatan yang dapat digunakan untuk membongkar persoalan ketidakadilan yang dialami oleh rakyat pribumi, tetapi juga untuk memberikan dasar-dasar ideologis pemikiran nasionalismenya yang mencoba mempertemukan berbagai ideologi di bawah Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Pendjadjahan ialah usaha Soekarno membagi imperialisme menjadi mengolah tanah, mengolah harta- imperialisme tua dan imperialisme modern.

Sedangkan hewan-hewan dan terutama imperialisme modern menggunakan cara-cara mengolah penduduk, untuk baru yang kadang lebih halus, tetapi lebih keuntungan keperluan ekonomi memberikan derita.

Bila dilihat sejak pledoi tersebut Page 9 of 18 dibacakan, tidak banyak perubahan atas pembacaan Soekarno terhadap kerjanya imperialisme pada tahun itu dengan tahun-tahun sekarang ini.

Dengan menganggap inti persoalannya adalah persoalan ekonomi, maka nuansa Marxis terasa kuat dalam pledoi yang dibacakan tersebut. Keresahan agraria Satu hal lagi yang juga terasa ketika mempelajari pledoi Indonesia Menggugat adalah suatu pembacaan terhadap situasi-situasi rakyat pribumi yang mengalami keresahan akibat dari kapitalism-agraria yang dikembangkan oleh penguasa kolonial.

Keresahan-keresahan agraria itu merupakan sebab dari lahirnya sekalian gerakan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Sejalan dengan tesis Erich Jacoby dalam bukunya Agrarian Unrest in Southeast Asia bahwa perjuangan kemerdekaan negara-negara dunia ketiga, tidak terlepas dari timbulnya keresahan agraris agrarian unrest akibat merebaknya kapitalisme-agraria yang dikembangkan oleh pemerintah kolonial Jacoby, Apa yang disampaikan oleh Jacoby tidaklah berlebihan.

Beberapa tulisan yang dibuat oleh para pejuang republik membenarkan kesimpulan tersebut. Bahkan lebih lanjut Soekarno mengajukan kritik terhadap berlakunya Agrarische Wet 3 Soekarno, Indonesia Menggugat.

Pledoi yang dibacakan pada Pengadilan Bandung pada tahun Diterbitkan oleh SK Seno, Jakarta. Cetakan Kedua, Tahun Imperialisme tua makin lama makin laju, imperialisme modern menggantikan tempatnja, tjara pengedukan harta jang menggali untung bagi negara Belanda itu, makin lama makin berobah, terdesak oleh tjara pengedukan baru jang mengajakan model partikulir. Tjara pengedukan berobah, - tetapi banjakkah perobahan bagi rakjat Indonesia?

Kegiatannya di organisasi tersebut sempat mengantarkannya mendekam di hotel prodeo di Belanda. Pledoinya yang berjudul Indonesia Free Indonesia Merdeka berisi gugatan terhadap sistem ekonomi kolonial, yang berkarakter kapitalisme-agraris, yang telah merugikan rakyat pribumi.

Sebelum pledoi Soekarno dan Mohamad Hatta tersebut, di dalam Naar de Republiek Indonesia Menuju Republik Indonesia ,4 Tan Malaka pada tahun telah memikirkan program aksi untuk mengatasi keresahan-keresahan agraria ulah berkubangnya kapitalisme kolonial di Indonesia. Menghapuskan sisa-sisa feodal dan tanah-tanah partikelir dan membagikan yang tersebut belakangan ini kepada petani melarat dan proletar.

Page 11 of 18 Tjipto Mangoenkoesoemo sebagai anggota Voklsraad pada tahun secara frontal menyerang Directuer van Landbouw Direktur Pertanian penguasa kolonial yang telah memberikan izin kepada perusahaan perkebunan untuk memperluas lahan usahanya Luthfi dkk, Tjipto Mangoenkoesoemo mengajukan tuntutan kepada Directuer van Landbouw untuk mengurangi areal penanaman tebu yang pada masa itu telah menjadi sumber kemelaratan dan penyakit warga pribumi.

Iwa Kusumasumantri dengan nama samaran S. Buku yang diterbitkan pada tahun itu menjelaskan berbagai persoalan agraria yang dihadapi oleh penduduk pribumi dan pergerakan-pergerakan yang mereka lakukan sebagai respons atas kapitalisme agraria yang dirawat beradab-abad oleh penguasa kolonial.

Iwa Kusumasumantri merupakan lulusan sekolah hukum di Leiden dan pernah menjadi ketua Indonesische Vereeniging pada tahun di Belanda itu berkesimpulan bahwa sejarah kolonialisme di Indonesia sejatinya adalah sejarah kapitalisme agraria.

Para pejuang kemerdekaan tersebut membuktikan bahwa pergerakan kemerdekaan Indonesia tidak lepas dari keresahan-keresahan agraria yang berlangsung ratusan tahun dari berbagai model kapitalisme agraria yang dikembangkan oleh orang Belanda.

Keresahan-keresahan agraria ini pula yang kemudian menulari semangat pembentukan konstitusi Indonesia. Perlawanan terhadap kapitalisme-agraria kolonial yang kemudian menumbuhsuburkan semangat sosialisme-kerakyatan yang berkesesuaian dengan tiga paham politik besar yang hidup pada masa itu: nasionalisme, komunisme, dan islam.

Narasi keresahan agraria nampak jelas dalam pledoi Indonesia Menggugat. Salah satunya ketika Soekarno memaparkan persoalan-persoalan yang ditimbulkan tatkala nila ini dalam tahun dengan cara yang sembrono dimasukan di tanah Priangan.

Nila telah menjadi bencana bagi penduduk. Dengan masuknya nila, tidak saja laki- laki dari beberapa desa yang dipaksa mengerjakan kebun-kebun nila selama 7 bulan berturut-turut, tetapi juga kerbau-kerbau dipaksa mengerjakan tanah. Dalam tahun , orang laki-laki dan kerbau diarahkan untuk membangun kebun dan pabrik-pabrik untuk menghasilkan nila Soekarno, Aturan-aturan kolonial dibuat untuk melayani perkembangan mutlak perusahaan partikelir.

Praktik- praktik pada masa kolonial telah menggugah Soekarno untuk mengatakan bahwa: Di sini kita melihat suatu bangsa jang tidak setjara undang-undang hidup dalam perbudakan tapi secara kenjataan Soekarno, Soekarno juga menyorot percepatan laju penguasan tanah oleh perusahaan partikelir lewat hak erfpacht.

Pidato pembelaan indonesia menggugat yang

Pada tahun jumlah tanah erfpacht ada Pandangan Hukum Soekarno Soekarno merupakan orang yang paling mengidam-idamkan penyatuan antara Nasionalisme, Islamisme dan Marxisme. Oleh sebab itu kelak ia hendak menyatukan ketiga ideologi itu menjadi satu dengan nama Nasakom Nasionalisme, Agama dan Komunis. Ia barangkali tidak pernah membayangkan Islam menjadi dasar bagi pelaksanaan hukum negara, bahkan ia merupakan salah satu penentang utama Islam menjadi satu-satunya dasar negara sebagaimana nampak dalam persidangan Konstituante.

Soekarno juga bukan seorang nasionalis yang menghendaki adanya satu sistem hukum baru yang berbeda dengan sistem hukum lain untuk mempersatukan negeri. Setelah kemerdekaan ia menempuh cara sporadis untuk mengubah hukum, tidak mementingkan bentuk, tetapi mengutamakan isi. Misalkan dengan mengeluarkan puluhan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Perppu , penetapan pemerintah, maklumat pemerintah, dekrit presiden dan berbagai bentuk instumen hukum lainnya.

Dalam soal pengembangan dan penggunaan hukum, Soekarno cenderung Marxis. Hal mana paling terlihat dalam pledoi Indonesia Menggugat. Dekonstruksi hukum kolonial. Melakukan dekonstruksi terhadap hukum kolonial merupakan salah satu benang merah pemikiran hukum Soekarno dalam Indonesia Menggugat. Bagi Soekarno, hukum kolonial telah dipergunakan sedemikian rupa oleh penguasa belanda sebagai sarana memperluas rezeki dengan menyengsarakan rakyat pribumi.

Ia juga mengkritik masukan tanaman-tanaman tertentu, seperi kopi dan nila yang kemudian diikuti dengan pengerahan tenaga penduduk pribumi untuk menanam dan mendirikan pabrik-pabrik bagi usaha-usaha partikelir.

Pandangan ini kemudian dapat dijadikan acuan bahwa hukum mengikat karena adanya dominasi modal produksi dari kaum borjuis terhadap kaum proletar, hukum mengikat untuk melindungi dominasi kaum borjuis. Selain mendorong kian dipercepatnya transformasi pada sebagian besar sarana produksi, yang sudah diisolasikan, menjadi milik negara, ia menunjukkan sendiri cara untuk melakukan revolusi ini. Hukum kolonial, terutama yang lahir setelah sistem tanam paksa merupakan refleksi dari kemenangan kelompok liberal di Belanda.

Kemenangan kelompok tersebut telah berhasil mengurangi sedikit kekuasaan raja dengan memperluas peranan perusahaan swasta untuk dapat menanam modal langsung ke tanah jajahan. Untuk memperlancar masukan modal swasta, maka hambatan-hambatan yang ada pada masa sebelumnya harus dilepaskan.

Cara melepaskannya adalah dengan membuat peraturan yang membebaskan. Dalam pledoi yang dibacakannya, Soekarno mengkritik sekalian hukum kolonial tersebut sebagai upaya untuk melanggengkan pengedukan atas tanah air dan manusia pribumi.

Soekarno mengajukan perlawanan dan menjadikan kemerdekaan sebagai jawaban untuk mengubah keadaan dan mengganti hukum kolonial. Hukum sebagai alat politik Pandangan Marx tentang negara mau tidak mau mempengaruhi pemikirannya tentang hukum. Konsep hukum menurut Marx sangat kental dengan sistem kelas dan itu merupakan khas pemikirannya.

Jadi, ketika penguasanya adalah penguasa kolonial, maka hukumnya pun merefleksikan kepentingan penguasa kolonial. Marx dan Engels dan juga seluruh gerakan Marxian memandang hukum sebagai bagian dari superstruktur ideologi yang mengemuka di atas realitas material sarana penguasaan produksi, karenanya hukum tidak berorientasi pada Page 15 of 18 keadilan, tetapi merupakan sarana dominasi dan piranti para pengeksploitasi yang menggunakannya sesuai kepentingan kelas mereka.

Begitu pula dengan proses peradilan yang dilakukan terhadap Soekarno dan tiga teman sejawatnya di PNI. Haatzaai Artikelen pun telah beberapa kali dikenakan kepada para pejuang kemerdekaan yang dianggap mengganggu kekuasaan kolonial. Ketika republik berdiri, aturan-aturan kolonial diberlakukan lewat aturan peralihan dalam UUA De Haatzaai Artikelen dipertahankan dan dipergunakan oleh penguasa republik untuk mengatasi pemberontakan yang dilakukan oleh teman sendiri.

Cara Soekarno memperlakukan hukum sebagai alat politik juga nampak dalam gaya kepemimpinannya. Pada masa-masa awal kepemimpinan Soekarno, sejumlah maklumat, instruksi, penetapan pemerintah, peraturan pemerintah pengganti undang-undang Perppu dibuat. Soekarno tidak begitu memusingkan tertib hukum, melainkan mengutamakan agenda politik yang ada di dalamnya.

Ia pun pada tahun mengeluarkan Dekrit Presiden untuk membubarkan konstituante dan menyatakan kembali kepada UUD Hukum harus memiliki sensitifitas sosial Meskipun tidak begitu memusingkan tertib hukum, Soekarno menaruh perhatian serius terhadap isi dari setiap peraturan dan instrument hukum yang akan dikeluarkannya.

Setiap peraturan dari suatu pemerintahan haruslah bagus.

Di dalam Indonesia Menggugat Soekarno mengutip Prof.

Similar files:


Copyright © 2019 aracer.mobi.
DMCA |Contact Us